PENGEMBANGAN EKONOMI LOKAL DESA SECARA KOLEKTIF

Oleh: Imam Arifa’illah Syaiful Huda

 

Pembangunan yang digerakkan oleh desa atau village driven development merupakan salah satu wujud dari amanah UU Nomor 14 Tahun 2014. Salah satu yang perlu digerakkan oleh perangkat desa dan masyarakat yakni pembangunan ekonomi lokal secara kolektif. Pembangunan ekonomi lokal perlu memperhatikan potensi yang ada di desa. 

Sejauh ini, masih banyak lahan kosong atau berupa semak belukar yang belum dimanfaatkan secara optimal oleh perangkat desa dan masyarakat. Lahan-lahan kosong yang ada di desa sejatinya bisa dimanfaatkan sebaik mungkin untuk menciptakan lahan yang produktif, salah satunya dengan pola pertanian kolektif, peternakan kolektif, atau hutan kolektif. 

Contoh kongkret pertanian kolektif yang digerakkan oleh Totok Daryanto salah satu warga Gunungkidul bersama kepala desa dan masyarakat dengan menanam 1000 pohon sengon, yang dibagi dua pohon ke setiap pekarangan rumah tangga. Selama lima tahun, pohon sengon ditebang dan dijual dengan harga Rp. 250.000.000. Hasil penjualan pohon sengon dibagi antara pemerintah desa dan masyarakat(Eko, Sutoro, dkk. 2014).

Di Desa Oemolo, Kecamatan Amabi Oefeto Kabupaten Kupang, kepala desa memiliki program yang berbasis ekonomi lokal yakni dengan semboyan Ayo Menanam. Kepala desa menyadari bahwa sebagian besar masyarakat bekerja sebagai petani lahan kering dengan tanaman jagung, padi lahan kering, kacang-kacangan, dan ubi yang ditanam ketika musim penghujan. Hasil dari tanaman ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Akibatnya kekurangan pangan sering tejadi di saat musim kemarau (Eko, Sutoro, dkk. 2014).  

Melihat masalah di atas, kepala desa merealisasikan program Ayo Menanam dengan langkah awal yakni pemagaran lahan kebun dan ladang ternak untuk menjaga kuantitas dan kualitas hasil kebun sepanjang 11 Km. Pemagaran ini bertujuan untuk memisahkan lahan pertanian dan lahan peternakan. Hasilnya, para petani dapat memperluas lahan tanaman pangan dan lahan perkebunan. Tahun 2016, kepala desa dan masyarakat desa menyusun perdes wajib tanam yang berbunyi setiap keluarga wajib menanam 25 pohon pisang, 5 pohon mangga, 5 pohon nangka, dan 25 pohon kemiri. Selain itu, hasil musyawarah juga memutuskan bahwa warga diminta untuk menanam sayur-sayuran, pepaya, mahoni, kelapa, dan lain-lain (Eko, Sutoro, dkk. 2014).

Ini menggambarkan bahwa inisiatif atau gagasan yang dibangun oleh kepala desa untuk mengajak warga menanam dituangkan dalam perencanaan desa, dimusyawarakan dengan warga, dan disusun Peraturan Desa Wajib Tanam untuk mendorong kebijakan desa dilaksanakan dengan baik. Untuk memperkuat program wajib tanam, kepala desa membentuk kelompok tani. pembentukan kelompok tani ini juga dimaksudkan untuk mengajak warga lainnya untuk turut berperan aktif dalam program wajib tanam. Seiring berjalannya waktu, warga merasakan hasilnya salah satunya tidak kekurangan bahan pangan karena di pekarangan rumah dan dikebun sudah tersedia tanaman pangan.

Gerakan pertanian kolektif di atas tentu menjadi kekuatan pembanguan ekonomi lokal karena secara kongkret masyarakat memperoleh manfaatnya. Contoh penanaman 1000 pohon sengon dan program ayo menanam merupakan contoh kongkret yang bisa dilakukan oleh desa-desa lainnya karena setiap desa memiliki potensi pertanian, peternakan, atau perikanan yang besar untuk dikembangkan secara kolektif. 

Dana desa menjadi kekuatan untuk menggerakkan ekonomi kolektif di pedesaan. Dalam tahap ini, sosok pemimpin yang mempunyai daya imajinasi, inovatif, kreatif, dan memiliki kemampuan dalam menggali potensi desa memainkan peranan yang sangat besar dalam membangun ekonomi lokal desa secara kolektif. Tidak bisa dipungkiri, keberhasilan desa-desa yang mandiri dibaliknya terdapat sosok kepala desa yang hebat. 

Langkah pengembanga ekonomi lokal desa secara kolektif dapat dilakukan sebagai berikut, pertama, pemerintah desa, khususnya kepala desa mengambil prakarsa dan melakukan konsolidasi gerakan desa membangun ekonomi. Kedua, pemerintah desa bersama masyarakat melakukan aksi kolektif (kebersamaan) membangun ekonomi lokal. Ketiga, kolektivitas itu memanfaatkan dan mengoptimalkan potensi aset lokal yang tersedia dan tentu layak jual. Keempat, pengambil keputusan tentang komoditas, modal, mekanisme, gerakan dan bagi hasil dilakukan melalui musyawarah desa. 

Sejauh ini masih banyak desa yang belum menggerakkan ekonomi lokal desa. Ini disebabkan beberapa hal diantaranya: pertama, tradisi berdesa yang masih lemah. Kedua, kepala desa tidak memiliki imajinasi dan prakarsa yang kuat untuk menggerakkan masyarakat dan mengonsolidasikan aset ekonomi lokal. Ketiga, pemerintah desa sibuk mengelola dana bantuan dari pemerintah yang umumya tidak diarahkan untuk membangun ekonomi kolektif. Keempat, pembangunan desa selalu bias fisik, yang tidak sensitive pada gerakan ekonomi lokal. Kelima, desa tidak mempunyai dana memadai sebagai modal investasi ekonomi lokal. 

Pada akhirnya, pembangunan ekonomi lokal desa secara kolektif akan mencega urbanisasi masyarakat desa ke perkotaan, serta geliat ekonomi lokal desa yang digerakkan secara kolektif akan menjadi lokomotif perubahan dan kesejahteraan desa.

 

Daftar Pustaka

Eko, Sutoro. 2014. Desa Membangun Indonesia. Yogyakarta: Forum Pengembang Pembaharuan Desa (FPPD)

UU Nomor 14 Tahun 2014

Baca juga

PENGEMBANGAN EKONOMI LOKAL DESA SECARA KOLEKTIF

KEBENARAN DALAM AGAMA VERSUS TOLERANSI ANTAR UMAT BERAGAMA (Kajian Konsep Tolera...

“NODA” INVESTOR PADA INVESTASI SAHAM SYARIAH

UPAH MINIM(UM)

BIMBINGAN CENDEKIA LANGIT (BCL) CPNS 2021 TELAH DIBUKA

Lihat semua