KEBENARAN DALAM AGAMA VERSUS TOLERANSI ANTAR UMAT BERAGAMA (Kajian Konsep Toleransi Beragama)

Oleh: DODI HARIANTO, M.Pd.I

Negara Indonesia adalah negara majemuk yang mempunyai penduduk yang berbeda suku, adat, budaya dan agama. Seperti agama yang diakui di Indonesia, Islam 87,01%, Khatolik 2,91%, Protestan 6,96%, Hindu 1,69%, Budha 0,72, dan Kong Huchu 0,05%, aliran lainnya 0,13% dan tidak terdeteksi 0,4% (Nazmudin, 2017:31). Perbedaan agama sangat mempengaruhi kerukunan keberagmaan di Indonesia.Seperti di daerah Poso dan Papua (terjadi bentrok antara umat muslim dan kristiani). Dengan banyaknya agama yang diakui di Indonesia kemungkinan muncul konflik antar agama tebuka lebar. Sebab masalah agama adalah masalah esensi dalam kehidupan dan keyakinan. Setiap agama mengklaim bahwa ajaran merekalah yang paling benar/betul.

Setiap individu (pemeluk agama) terdapat suatu kewajiban untuk mendakwahkan agama yang dianutnya dan itu dianggap suatu kebenaran. Seperti umat Islam diperintahkan untuk berdakwah/mendakwahkan ajaran agama yang dianutnya dengan cara hikmah dan pelajaran yang baik dan beragumentasilah bersama mereka dengan yang baik pula. Seperti dalam firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

“Sesungguhnya Tuhanmu Dia-lah yang paling mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. An- Nahl : 125) (Departemen Agama:2007). Tidak ada satupun agama yang dapat menghindari dakwah/doktrinasi ajaran agamanya. Jika ia memiliki suatu kekuatan intelektual, menolak dakwah berarti menolak kebutuhan untuk mendapatkan persetujuan orang lain terhadap apa yang diklaim sebagai kebenaran agama (Setiawati, 2012:259-267).

 

Kebenaran dalam Agama

  Setiap penganut agama, pasti menyakini bahwa agamanya yang benar, begitu juga dengan ajaran agama Islam, menyakini bahwa agama Islam yang benar, sebagaimana firman Allah SWT di dalam surah Ali Imran ayat 19 :

إِنَّ ٱلدِّينَ عِندَ ٱللَّهِ ٱلۡإِسۡلَٰمُۗ وَمَا ٱخۡتَلَفَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ إِلَّا مِنۢ بَعۡدِ مَا جَآءَهُمُ ٱلۡعِلۡمُ بَغۡيَۢا بَيۡنَهُمۡۗ وَمَن يَكۡفُرۡ بِ‍َٔايَٰتِ ٱللَّهِ فَإِنَّ ٱللَّهَ سَرِيعُ ٱلۡحِسَابِ  ١٩

 

Artinya : Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam (QS. Ali Imran 19). 

Dari firman Allah ini sudah sangat nyata bahwasanya agama yang diridhoi adalah agama Islam. Dalam Tafsir Al-Wajiz/Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili. Allah memberitakan, ”Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah,” maksudnya, agama yang mana Allah tidak memiliki agama selainnya dan tidak diterima selainnya adalah,  “Islam” (https://tafsirweb.com).

Namun, di satu sisi kita harus mengakui agama sebelum agama Islam datang, seperti dijelaskan dalam surah Al Baqarah ayat 4:

مِن قَبۡلُ هُدٗى لِّلنَّاسِ وَأَنزَلَ ٱلۡفُرۡقَانَۗ إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بِ‍َٔايَٰتِ ٱللَّهِ لَهُمۡ عَذَابٞ شَدِيدٞۗ وَٱللَّهُ عَزِيزٞ ذُو ٱنتِقَامٍ  ٤

Artinya: dan mereka yang beriman kepada kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-Kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat (QS. Ali Imran: 4).

  Ayat di atas mengajarkan kepada kita bahwa ada agama lain sebelum Islam datang, dan itu harus kita yakini, sebagai bentuk iman seorang muslim.

  Setiap agama menyakini kebenaran, keyakinan tentang benar itu didasarkan kepada Tuhan sebagai satu-satunya sumber kebenaran. Dalam tataran sosiologis, klaim kebenaran berubah menjadi simbol agama yang dipahami secara subyektif personal oleh setiap pemeluk agama. Nampaknya, setiap orang memang sulit melepaskan kerangka (frame) subyektivitas ketika keyakinan pribadi berhadapan dengan keyakinan lain yang berbeda. Sekalipun alamiah, namun setiap manusia mustahil menempatkan dua hal yang saling berkontradiksi satu sama lain dalam hatinya. Oleh karena itu, setiap penganut agama tidak harus memaksakan inklusivismenya pada orang lain, yang menurut kita eksklusif (Ghazali, 2013:294─295).

Hugh Godard, seorang Kristiani yang ahli teologi Islam di Nottingham University Inggris, sebagaimana dikutip oleh Budhy Munawar Rahman memberikan contoh bahwa “Hubungan Kristen dan Islam kemudian berkembang menjadi kesalahpahaman, bahkan menimbulkan suasana saling menjadi ancaman di antara keduanya, adalah suatu kondisi berlakunya “standar ganda” (double standars)”. Orang-orang Kristen maupun Islam selalu menerapkan standar-standar yang berbeda untuk dirinya, sedangkan terhadap agama lain mereka memakai standar lain yang lebih bersifat realistis dan historis. Misalnya, dalam masalah teologi, ada standar yang menimbulkan masalah klaim kebenaran: “agama kita adalah agama yang paling sejati karena berasal dari Tuhan, sedangkan agama lain hanyalah konstruksi manusia. Agama lain mungkin juga berasal dari Tuhan tapi telah dirusak, dipalsukan oleh manusia”. Dalam sejarah, standar ganda ini biasanya dipakai untuk menghakimi agama lain dalam derajat keabsahan teologis di bawah agamanya. Lewat standar ganda inilah, kita menyaksikan  munculnya prasangka-prasangka teologis yang selanjutnya memperkeruh suasana hubungan antar umat beragama. Kebenaran dalam agama adalah kebenaran tauhid dalam artian kebenaran untuk agama yang diyakini. Suatu keyakinan tidak bisa di samaratakan dengan keyakinan orang lain. Islam tetap berkeyakinan dengan keyakinannya sendiri, sedangkan non Islam berkeyakinan dengan keyakinannya sendiri. Kebenaran agama disini adalah kebenaran bahwa manusia adalah manusia sebagai makhluk sosial (Nazmudin, 2017:24),  yang berinteraksi antar sesama makhluk (ciptaan tuhan). Ini berarti ilmu sosial dalam kehidupan yang perlu ditanamkan, dikembangkan dan diperdalamkan sehingga nilai-nilai agama (hubungan) dapat memperkuat rasa kerukunan antar umat beragama. Sebagai contoh sifat gotongroyong, tenggangrasa, jujur, dan lain-lain. 

 

Toleransi Antar Umat Beragama

Secara etimologis, toleransi berasal dari bahasa Inggris, toleration, diIndonesiakan menjadi toleransi. Dalam bahasa Arab disebut altasamuh, yang berarti, antara lain, sikap tenggang rasa, teposeliro, dan sikap membiarkan. Sedangkan secara terminologis, toleransi adalah sikap membiarkan orang lain melakukan sesuatu sesuai dengan kepentingannya. Bila disebut toleransi antarumat beragama, maka artinya adalah bahwa masing-masing umat beragama membiarkan dan menjaga suasana kondusif bagi umat agama lain untuk melaksanakan ibadah dan ajaran agamanya tanpa dihalangi-halangi. Inilah toleransi yang dimaksudkan oleh Islam. Ada beberapa dasar teologis yang secara langsung maupun tidak langsung  mengandung pesan akhlak toleransi Islam (Jamrah, 2015:186). Tolerance is the ability and willingness of person and the general public to be  wary of the right of the small group in which they live in the rules defined by the majority-which is the basic meaning of democracy (toleransi adalah kemampuan dan kemauan orang dan masyarakat umum untuk mewaspadai hak kelompok kecil di mana mereka hidup dalam aturan yang ditentukan oleh mayoritas - yang merupakan makna dasar demokrasi) (Sahal, dkk. 2018:117).

Pandangan teologis tentang toleransi, Islam menyakini dan mengakui realita perbedaan agama sebagai ketentuan Allah kepada diri setiap manusia, bahwa setiap individu secara bathiniah memang memiliki kecenderungan berbeda, termasuk dalam menentukan dan memilih agama yang dijadikan suatu keyakinan. Allah yang menciptakan dan atau tidak memaksa manusia harus seragam dan bersatu dalam satu agama, melainkan memberikan kebebasan kepada manusia untuk menentukan pilihan yang saling berbeda, seperti yang tercantum dalam surah Hud ayat 118, Q.S. Yunus ayat 99, dan Q.S. Kahfi ayat 29:

Artinya: Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat (Q.S. Hud, 11: 118).

Artinya: Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang berada di muka bumi semuanya. Maka apakah kamu hendak memaksa manusia supaya merekamenjadi orang-orang beriman seluruhnya? (Q.S. Yunus, 10: 99).

Artinya: Dan katakanlah: Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin beriman hendaklah dia beriman dan barangsiapa yang ingin kafir biarlah ia kafir…(Q.S. Kahfi, 18: 29).

Komitmen untuk kebebasan dalam menentukan dan memilih agama ini semakin terang dan tegas dikemukakan oleh Allah SWT dalam al-Qur’an surah Al Baqarah ayat 256:

Artinya: Tidak ada paksaan untuk memeluk agama (Islam). Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka seungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (Q.S. al-Baqarah, 2: 256).

Kebebasan tanpa paksaan dalam memeluk agama ini, diterangkan oleh M. Quraish Shihab, hanya berhubungan dengan kebebasan memilih agama Islam atau lainnya. Bahkan kalau seseorang sudah menentukan pilihan kepada agama Islam, maka tidak ada kebebasan memilih lagi, dia harus patuh dan tunduk menjalankan ajaran Islam secara kaffah, Islam kaffah; bukan lagi kebebasan memilih melaksanakan sebagian ajaran dan tidak melaksanakan sebagian ajaran agama. Demikian kekeliruan sebagai orang Islam, misalnya, yang berkata bahwa dia bebas mau taat atau tidak, karena tidak ada paksaan dalam beragama Islam (Shihab, 1992:368). 

Surah Al Baqarah ayat 256 ini, sekali lagi menerangkan dalam konteks seseorang bebas menentukan dan memilih agama yang akan dijadikan keyakinannya, bukan bebas memilih antara mau atau tidak melaksanakan sebagian ajaran agama yang telah menjadi pilihan. Itulah sebabnya, menjadi konsekuensi terhadap pilihan agama yang diyakininya, seperti agama Islam setiap ketaatan dalam Islam mendapat balasan berupa pahala dan setiap pelanggaran mendapat balasanberupa sanksi. 

Kebebasan beragama dijamin dalam Islam, dua hal ini dibuktikan secara nyata oleh Nabi Muhammad Sallallahu alaihi wassalam, ketika membangun masyarakat Islam di Madinah yang ketika itu masyarakatnya terdiri dari beragam suku, dan beragam agama. Paling tidak, dari segi agama di sana dijumpai empat kelompok, yaitu: penganut paganism (penyembah berhala), kelompok  pengikut agama Yahudi, Kelompok Nasrani, dan kelompok Muslim yang terbagi dua golongan: Anshar (penduduk asli) dan Muhajirin (Pendatang). Kebebasan beragama yang dipraktikkan nabi juga tercermin dalam Piagam Madinah  Pasal 25, menyatakan secara tegas: “bagi orang-orang Yahudi agama mereka dan bagi orang-orang Islam agama mereka”. Pasal ini menjamin kebebasan beragama bagi segenap penduduk Madinah yang berbeda-beda agamanya Setiawati, 2012:259─267).

Bagaimana kenyataan historis, misalnya, Khalifah Abu Bakar mengerahkan kekuatan militer untuk memerangi orang-orang Islam yang murtad dan menolak membayar zakat sepeninggal Rasulullah, yang terkenal dengan sebutan Perang Riddah. Tidak boleh ada seorang muslim menolak atau tidak mau melaksanakan syariat Islam dengan alasan tidak ada paksaan dalam beragama. Sekali seseorang yang sudah menyatakan beragama Islam, maka selamanya ia harus taat menjalankan Islam. Seorang muslim yang menolak melaksanakan ajaran Islam dengan alasan kebebasan dan tidak boleh ada paksaan dapat dituduh telah melakukan pelecehan atau penistaan terhadap Islam dan, karenanya, harus ditindak, diberi hukuman dan sanksi (Shihab, 1992:368).

Hubungan antara agama Islam dengan agama samawi yang lain sebelum Islam datang, yaitu Yahudi dan Nasrani, Islam memiliki dasar dan perspektif teologis tersendiri. Teologi Islam menegaskan bahwa semua Nabi dan Rasul Allah, dari Nabi Adam Alaihissalam sampai Nabi Muhammad Sallahu alaihi wassalam, membawa akidah tauhidiah (satu tuhan). Dengan prinsip teologis yang demikian, maka Islam mengimani keberadaan para Nabi dan Rasul sebelum Muhammad, dari Nabi Adam sampai Nabi Isa. Demikian pula Islam mempercayai kitab-kitab (Injil dan Taurat) yang diturunkan oleh Allah sebelum kitab al-Qur‘an. Percaya dan beriman kepada para Nabi dan Rasul, kitab-kitab suci sebelum Nabi Muhammad Sallahu alaihi wassalam, adalah termasuk rukun iman dalam Islam.

Islam mempunyai pandangan tentang kedua agama samawi  dan umatnya ini bagaikan saudara kandung, sama-sama  berasal dari jalan keturunan yang sama dari bapak para nabi, Ibrahim Alaihissalam. Islam tidak boleh memandang Yahudi dan Nasrani sebagai musuh, melainkan sebagai saudara. Demikian kedudukan agama samawi (Yahudi dan Nasrani), di dalam Islam, sebagai suatu kedudukan yang sama di mata Allah Subhanahu wa ta’ala.

Berdasarkan pandangan dasar kita sebagai umat Islam, maka dalam interaksi dan komunikasi kita dengan penganut agama samawi, umat Islam wajib mengajak mereka agar kembali kepada titik persamaan, yaitu mengajak kepada aqidah tauhid, bukan mencari-cari sisi perbedaan dan pertentangan. Ketika seruan atau dakwah secara persuasif ini tidak disambut dengan baik, maka umat Islam hanya meminta kepada orang-orang yang di luar Islam, mengakui dan menghormati eksistensi umat islam, mengakui bahwa kami adalah orang islam, sebagaimana dinyatakan oleh al-Qur‘an:

Artinya: Katakanlah: Hai Ahli Kitab, marilah berpegang kepada suatu kalimat yang tidak ada perselisihan  antara kami dan kamu bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak pula sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri kepada Allah (Q.S. Ali Imran, 3: 64).

Di dalam ayat lain, Allah mengingatkan muslimin agar jangan berdebat dengan Ahl al Kitab kecuali dengan cara yang paling baik:

Artinya: Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli al-Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang yang zhalim di antara mereka, dan katakanlah: Kami telah beriman kepada kitab-kitab yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu, Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu, dan kami hanya kepada-Nya berserah diri (Q.S. al-Angkabut,29: 46).

Dari ayat di atas sangat jelas sikap umat Islam terhadap agama di luar Islam (Yahudi dan Nasrani). Islam percaya dan beriman kepada Nabi Musa dan Nabi Isa. Islam mengimani keberadaan Kitab Suci Taurat dan Injil, disebabkan kedua nabi mulia ini pada hakekatnya juga membawa ajaran Islam, akidah tauhidiah (mengesakan Allah). Sekarang umat di luar Islam boleh bertanya, bagaimana Yahudi dan Nasrani, apakah mereka mengakui kerasulan Nabi Muhammad dan mengakui kebenaran Kitab Suci al-Qur‘an? Sebaliknya, muslimin sangat memuliakan Nabi Musa dan Isa.

Demikian, Agama Islam sangat menjunjung tinggi serta mengharuskan  akhlak toleransi Islami dalam hubungan antaragama dan kemanusiaan, baik terhadap umat agama wahyu maupun agama nonwahyu. Begitu pula agama Kristen dikenal istilah credenta dan agenda. Credenta mengacu pada apa yang diimani atau dipercayai, yang dapat diungkapkan melalui pengakuan iman dan konfensi. Sedangkan agenda menunjukkan pada perilaku dan sikap etis serta moral yang dikerjakan berdasarkan credenta. Konsep teologi kristen ini juga dimiliki oleh agama agama lain, (iman, Islam, dan ikhsan dalam Islam) (Ismail, 2010:175). Pada intinya setiap agama membawa misi perdamaian dan toleransi untuk kesejahteraan manusia di muka bumi. Karena agama adalah pondasi/sebuah peraturan kehidupan dunia menuju akhirat.

Toleransi antar umat beragama tidak membatasi rasa tanggungjawab orang Islam untuk membina keharmonisan antar umat beragama dengan umat lainnya atas nama kepentingan bersama. Muslimin tidak boleh melecehkan agama lain, tapi juga tidak mengkompromi apabila agamanya dilecehkan; umat Islam akan selalu siap dan setuju dengan perbedaan/agree in disagreement, selama  identitas dan ajaran Islam dihormati. Umat Islam menginginkan kepada pihak yang berlainan keyakinan hanya satu yang utama, yakni menyaksikan dan akui bahwa kami adalah umat muslim. Kedamaian dan kerukunan masyarakat heterogen dan banyak agama hanya terwujud apabila ada toleransi. Toleransi berarti setiap agama mau mengakui dan menghormati keberadaan agama lain, membiarkan umat agama yang lain berakidah dan beribadah menurut ajaran agamanya atau kepercayaannya, sebagai indikator umat beragama akan dapat hidup berdampingan secara rukun dan damai penuh dengan toleransi.

 

 

Daftar Pustaka

 

Departemen Agama. 2007. Al Quran dan Terjemahannya. Semarang: Karya Toha.

Ghazali, Adeng Muchtar. 2013. Teologi Kerukunan Beragama dalam Islam.Jurnal Analisis. Vol. XIII. No. (2). Hal.:294─295.

https://tafsirweb.com/1151-surat-ali-imran-ayat-19.html

Ismail, Arifuddin. 2010. Refleksi Pola Kerukunan Umat Beragama (fenomena Keagamaan di Jawa Tengah, Bali dan Kalimantan Barat). Jurnal Analisa. Vol. XVII. No. (02). Hal.:175.

Jamrah, Suryan A. 2015. Toleransi Antarumat Beragama: Perspektif Islam. Jurnal Ushuluddin. Vol. 23 No. (2). Hal.:186.

Nazmudin. 2017. Kerukunan dan Toleransi Antar Umat Beragama dalam membangun keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Journal Of Government and civil Society. Vol. 1. No. (1). Hal.:24.

Sahal, Muhammad dkk. 2018. Tolerance in Multicultural Education: A Theoretical Concept. Internasional Journal of multicultural and Multireligious Understanding, Vol. 5. No. (4). Hal.:117.

Setiawati, Nur2012. Tantangan Dakwah dalam Perfektif Kerukunan Antar Umat Bergama. Jurnal Dakwah Tabligh. Vol. 13. No. (2). Hal.:259─267

Shihab, M. Quraish. 1992. Membumikan al-Qur‘an Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat. Bandung: Mizan.

 

Baca juga

STATISTIKA ITU ILMU TENTANG KEBENARAN, NAMUN STATISTIKAWAN DAPAT MEMBENARKAN ATA...

UPAH MINIM(UM)

PENDAFTARAN ANGGOTA GRUP WA INFORMASI BEASISWA

PENDAFTARAN ANGGOTA GRUP WA INFORMASI LOWONGA PEKERJAAN

KEBENARAN DALAM AGAMA VERSUS TOLERANSI ANTAR UMAT BERAGAMA (Kajian Konsep Tolera...

Lihat semua